Beberapa nasihat finansial untuk masyarakat kelas menengah
Saysa akan share beberapa langkah perencanaan keuangan secara umum dan tips dalam berinvestasi.
Arus Kas (Pemasukan dan Pengeluaran)
Hitung arus kas rutin bulanan dalam bentuk pemasukan (e.g. gaji, hasil usaha) dan pengeluaran (e.g. makan, transportasi, SPP sekolah, gaji ART, etc.); semakin detil semakin baik. Setelah tahu jumlah yang bisa kita simpan setiap bulannya, hitung arus kas tahunan secara mendetil juga karena pasti ada beberapa arus kas yang bukan rutin bulanan baik pemasukan (e.g. bonus, THR) maupun pengeluaran (e.g. servis mobil, liburan, uang pangkal sekolah).
Ini proses awal yang cukup penting agar kita mengetahui apakah benar bisa menabung untuk investasi jangka panjang atau sebenarnya masih besar pasak daripada tiang. Kalau pemasukan masih belum cukup, berarti harus ada pos-pos pengeluaran yang dikurangi karena bagaimanapun juga menabung secara berkala penting untuk hari tua nanti. Saya menggunakan kata “berkala" di sini karena menabung bisa harian, mingguan, bulanan.
Kas Cadangan
Setelah mengetahui estimasi pengeluaran bulanan/tahunan, setiap orang/keluarga perlu memiliki tabungan khusus untuk kas cadangan. Uang ini akan berguna ketika terjadi sesuatu yang menyebabkan penghasilan bulanan yang sebelumnya datang secara rutin tiba-tiba hilang (e.g. pemecatan karyawan). Kas cadangan akan bisa digunakan untuk menutupi pengeluaran rutin bulanan yang sudah dihitung sebelumnya ketika hal tersebut terjadi. Di sisi lain, kas cadangan tentunya bisa juga digunakan untuk menutupi pengeluaran mendadak (e.g. biaya berobat, perbaikan atap bocor).
Berapa nominal yang diperlukan bisa menggunakan pengeluaran bulanan dikali jumlah bulannya. Contoh, jika pengeluaran rutin bulanan sekitar Rp 5jt dan kita memutuskan kas cadangan selama 6 bulan, berarti jumlah yang diperlukan adalah Rp 30jt.
Menurut saya, angka yang optimal adalah 12 bulan. Namun, 3-6 bulan sebagai langkah awal seharusnya cukup karena mengumpulkan kas cadangan untuk 12 bulan pasti membutuhkan waktu. Jika tahun ini hanya cukup untuk 2 bulan ya tidak apa-apa. Berarti untuk mencapai 12 bulan, kita memerlukan waktu mungkin sekitar 6–7 tahun (asumsi bahwa pengeluaran akan sedikit bertambah setiap tahunnya).
Pertanyaan berikutnya, di mana kita sebaiknya menyimpan kas cadangannya?
Reksadana Pasar Uang (“RDPU”)
Sangat wajar kalau hal pertama yang muncul di benak kita adalah menyimpan kas cadangan dalam bentuk tabungan di bank atau dalam bentuk deposito. Namun, sebenarnya ada bentuk “tabungan” lain yang bisa memberikan imbal hasil lebih optimal daripada tabungan biasa? RDPU jawabannya. Meskipun terkesan agak berjualan (mengingat profesi saya sebagai manajer investasi), menurut saya tabungan dalam bentuk RDPU lebih optimal dibandingkan tabungan di bank maupun deposito.
Apa itu reksadana ("RD")? Kita bisa baca di sini atau mencoba Google saja tapi saya coba jelaskan dengan singkat di sini. RD adalah kumpulan (reksa) dari uang (dana) yang ada di dalam sebuah bank penyimpanan (i.e. bank kustodian atau BK). Dana tersebut dikelola oleh sebuah badan bernama manajer investasi (“MI”). Tugas MI adalah mengirimkan perintah ke BK ke mana dana-dana investor tersebut diinvestasikan. To make things clearer, dana tidak dipegang langsung oleh manajer investasi guna mencegah penipuan (e.g. MI membawa kabur uangnya).
Dengan maksud mempermudah, RDPU adalah RD yang berbasis setara deposito. Kumpulan dana dari para investor kemudian ditempatkan ke dalam deposito di bank-bank. Kuncinya adalah kumpulan untuk mendapatkan keuntungan dari ekonomi skala.
Apa maksudnya ekonomi skala dalam hal ini? Berikut contoh bunga deposito dari website ini
Contoh ketika kita punya uang Rp 10jt, tabungan deposito akan memberikan imbal hasil 4.5%. Jika ada 200 orang dengan masing-masing uang Rp 10jt, semua tetap akan dapat 4.5%. Fungsi RD adalah mengumpulkan dana-dana tadi hingga mencapai Rp 2M sehingga nasabah bisa mendapatkan 5.25% secara bersama-sama. Sebagai catatan ini hanya konsep dasar saja untuk menjelaskan prinsip ekonomi skala.
Kekurangan lain dari deposito adalah penalti bunga. Pencairan lebih awal dari tenor perjanjian akan mengurangi tingkat imbal hasilnya. Misalnya, kita menempatkan deposito 1 bulan dengan perjanjian imbal hasil 5%, tapi di hari ke-20 kita tiba-tiba ada keperluan dan harus mencairkan depositonya. Tentunya imbal hasil yang kita terima tidak akan 5% tapi kurang dari itu. Bisa saja cuma 3% bahkan ada beberapa bank yang tidak memberikan bunganya sama sekali alias 0%.
Secara umum, RDPU tidak ada penalti ketika kita melakukan pencairan karena nilai yang kita lihat kemarin, itulah nilai yang akan kita dapat ketika pencairan. Saya menggunakan "secara umum" karena tidak semua RDPU seperti itu, perlu agak pilih-pilih manajer investasi juga.
Asuransi
Sebelum menggunakan uang untuk berinvestasi yang ada potensi risiko (i.e. kehilangan uang), kita memerlukan asuransi. Asuransi menjadi lebih penting bagi kita yang belum memiliki banyak tabungan, sudah memiliki tanggungan hidup dan merupakan pencari nafkah utama. Kalau terjadi apa-apa, kita harus memikirkan bagaimana meringankan beban tanggungan hidup anggota keluarga yang lain.
Asuransi yang cukup penting adalah kesehatan & jiwa. Untuk kesehatan mungkin lebih mudah memilikinya karena sudah ada BPJS yang setidaknya bisa menutupi kebutuhan dasar untuk rawat inap dan sebagainya. Perusahaan tempat kita bekerja juga kemungkinan besar sudah memiliki asuransi untuk pembayaran rawat jalan. Selain itu, kalau saya perhatikan kebanyakan premi asuransi kesehatan swasta cukup mahal. Lain halnya dengan asuransi jiwa.
Sebelumnya, mungkin kita berpikir bagaimana asuransi jiwa itu tidak mahal? Kenyataannya tidak semua polis asuransi seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa polis asuransi yang mahal biasanya ada fitur lain seperti embel-embel investasi dan/atau pengembalian premi. Fitur tersebut menurut saya tidak penting dan justru akan menambahkan biaya polis asuransi. Mengapa tidak penting? Karena seperti yang akan saya jelaskan di bagian setelah asuransi, kita bisa melakukan swakelola porsi investasinya (e.g. investasi saham, properti).
Pada dasarnya, asuransi jiwa dibagi menjadi dua tipe:
1) Asuransi jiwa seumur hidup (whole-life insurance atau "WL"). Asuransi akan memberikan uang pertanggungan ketika kita meninggal nantinya di umur berapapun. Namun, umurnya bisa juga dibatasi, i.e. ketika kita mencapai angka tertentu (100 tahun misalnya), kita akan langsung menerima uang pertanggungan. Pembayaran premi setahu saya pada umumnya bisa 100% di depan atau bisa juga secara berkala sampai puluhan tahun.
2) Asuransi jiwa berjangka (term-life insurance atau "TL"). Asuransi jiwa yang memiliki term atau jangka waktu seperti 1, 2, 5, atau 10 tahun. Kalau sudah lewat jangka waktunya, pertanggungannya akan hangus. Setelah hangus, kita bisa memperbarui jangka waktu TL-nya juga, meskipun dengan premi yang kemungkinan akan lebih mahal dari sebelumnya seiring dengan bertambahnya usia kita.
Di Indonesia, kebanyakan polis yang ditawarkan ke publik adalah WL. Alasannya menurut saya cukup simple karena menjelaskannya ke nasabah cukup mudah. "Kami akan bayar jika Anda meninggal" titik, tidak seperti TL yang perlu ada tambahan "tapi setelah tahun 20xx hangus ya, tidak berlaku lagi". Di lain pihak, dari sisi perusahaan asuransi, kontraknya lebih jangka panjang. Mereka sudah mengunci penjualan dan tidak perlu pusing harus memperbaharui secara berkala seperti TL.
Yang saya kurang suka dari WL di Indonesia adalah preminya lebih mahal untuk menutupi pertanggungan yang bisa puluhan tahun lamanya. Sebaliknya, TL bisa lebih murah karena jangka waktu pertanggungannya lebih terukur. Pola pikir saya yang lainnya adalah saya hanya perlu tanggungan asuransi jiwa di awal masa karir saja. Nantinya, ketika saya berumur 50–60 tahun, saya cukup yakin bahwa tabungan dan hasil investasi saya akan sudah cukup untuk menutupi berbagai kebutuhan darurat yang muncul. Terlebih lagi, selisih premi antara WL dan TL tadi bisa saya investasikan juga ke berbagai instrumen lainnya.
Ini artikel yang menarik mengenai asuransi jiwa.
Berapa jumlah pertanggungan yang diperlukan? Formula yang cukup menurut saya sebagai langkah awal adalah 2 tahun penghasilan bulanan kita. Jadi, ditambah dengan target kas cadangan untuk 1 tahun pengeluaran, maka jika terjadi apa-apa setidaknya keluarga yang ditinggalkan punya waktu 3 tahun untuk hidup berkecukupan.
Hitungan kasar saya setelah browsing di internet, asumsi untuk usia 30-an, biaya premi TL untuk pertanggungan 2 tahun gaji itu kurang lebih setara dengan 1% dari penghasilan bulanan. Tidak terlalu mahal bukan? Jadi, jika kita ingin menaikkan pertanggungan jadi 4 tahun penghasilan misalnya, siap-siap menyisihkan kurang lebih 2% dari penghasilan bulanan untuk biaya premi.
Sebagai catatan tambahan, di Indonesia sayangnya tidak terlalu banyak perusahaan yang menawarkan TL karena preminya yang murah. Kalau saya perhatikan juga kebanyakan tenornya pendek seperti cuma setahun. Perlu tenaga ekstra memang untuk menemukan produk yang cocok.
Saham
Saham, oh, saham. "Main saham" atau "bursa saham", frasa yang banyak orang sering dengar tapi sepertinya sangat sedikit yang mengerti seluk-beluknya bahkan untuk beberapa investor senior dengan pengalaman tahunan sekalipun.
Pada umumnya, membeli saham berarti kita membeli kepemilikan atas sebuah perusahaan yang sudah terdaftar di bursa, dalam hal ini di Bursa Efek Indonesia (berhubung ini Quora Bahasa Indonesia). Naik turunnya harga saham sebenarnya cukup sederhana. Sama seperti ilmu ekonomi suplai dan permintaan, harga saham naik karena banyak yang beli, turun karena banyak yang jual. Jokes aside (meskipun yang saya tulis sebelumnya tidak sepenuhnya salah), seninya adalah mempelajari dan mencari saham mana yang berpotensi naik sedini mungkin, i.e. selagi belum banyak yang membeli sehingga harganya belum naik. Potensi itu bisa jadi datang dari pertumbuhan laba yang signifikan atau mungkin ada perusahaan lain yang akan mengakuisisi perusahaan tersebut di harga yang jauh lebih tinggi. Saya tidak akan menjelaskan terlalu panjang lebar mengenai tips membeli sahamnya tapi akan lebih ke bagaimana cara memulainya.
Beberapa hal yang perlu kita catat sebelum berinvestasi di saham:
1) Berinvestasi di saham sangat BERISIKO. Dibandingkan dengan misalnya RDPU yang cenderung lebih stabil, studi selama 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa naik turunnya harga saham per tahun bisa mencapai belasan, bahkan puluhan persen. Artinya, modal awal investasi Rp 100jt bisa saja menjadi tinggal Rp 10jt atau sebaliknya juga menjadi Rp 1M.
2) Karena sifatnya yang berisiko tinggi, jangan pernah menggunakan uang untuk kebutuhan normal bulanan kita untuk berinvestasi saham. Jangan sampai kerugian di investasi saham menyebabkan kita harus berhutang untuk membiayai sekolah anak atau bahkan biaya makan. Itulah mengapa kita sebaiknya sudah menyiapkan kas cadangan dan asuransi sebelum terjun bermain saham.
Mantan atasan saya memberikan nasihat untuk selalu ingat 3I
Insyaf, kurangi pengeluaran yang tidak perlu
Invest, mulai berinvestasi
Ikhlas, harus siap menghadapi risiko dari berinvestasi
Poin "Ikhlas" menurut saya paling penting, apalagi untuk berinvestasi saham. Walaupun kita rugi total, jangan sampai jadi stres. Itulah pentingnya kita mengetahui arus kas pemasukan & pengeluaran di awal guna mengukur seberapa banyak harta atau aset yang kita rela hilang seketika dalam jumlah besar jika skenario terburuk dari berinvestasi saham benar-benar terjadi.
3) Investasi saham pada umumnya memerlukan waktu bulanan bahkan tahunan sebelum bisa membuahkan hasil yang benar-benar optimal. Karena volatilitas naik-turun yang tinggi, investasi ini memerlukan kesabaran, tidak seperti RDPU yang hasilnya bisa langsung terlihat di keesokan harinya.
Baik, setelah mengetahui nominal yang kiya bisa ikhlas (dan menyiapkan mental juga tentunya), ada dua cara untuk berinvestasi saham:
1) Buka rekening saham pada sekuritas pilihan di sini dan swakelola portofolio saham.
2) Membeli RD saham di sini dan mempercayakan investasi saham pada manajer investasi pilihan.
Investasi saham secara umum sifatnya cukup likuid (i.e. mudah diperjualbelikan, baik sahamnya sendiri atau RD saham) dan saya yakin dalam jangka panjang imbal hasilnya lebih tinggi dibandingkan aset investasi lain seperti RDPU.
Properti
Namun, ada satu aset investasi lain yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi lagi daripada investasi saham, yaitu properti. Hanya saja ada beberapa hal penting sebelum investasi properti:
1) Investasi properti sangat tidak likuid, i.e. jual beli properti tidak semudah saham yang cuma perlu waktu 2–3 hari untuk menyelesaikan transaksi. Transaksi properti membutuhkan waktu cukup lama karena bergantung kepada siklus ekonomi juga sehingga membuat poin berikutnya menjadi relevan.
2) Timing sangat penting. Ketika ekonomi sedang lesu, sangat sulit untuk menjual dan merealisasikan investasi properti. Oleh karena itu, kita harus bersiap menahan properti tersebut bertahun-tahun sebelum bisa menjualnya kembali untuk realisasi keuntungan. Sebaliknya, biasanya ketika ekonomi sedang lesu harga properti biasanya lagi murah-murahnya dan menjadi momen yang tepat untuk membeli.
Cerita sukses orang dari investasi properti tidak lepas dari timing yang sangat tepat. Mereka benar-benar mengetahui tanda-tanda siklus ekonominya. Belilah ketika pasar sedang lesu dan tidak ada orang lain yang ingin membeli, kemudian jual ketika orang lain berebutan mencari-cari properti untuk investasi (ya, berbicara lebih mudah daripada mengerjakannya).
3) Transaksi properti melibatkan banyak pihak sehingga biaya transaksi cukup tinggi (e.g. pajak, biaya notaris) baik ketika kita membeli maupun menjualnya. Hitungan kasar pribadi saya adalah jika kita tidak yakin bisa menjual properti tersebut dengan harga setidaknya 80% di atas harga belinya, mungkin sebenarnya investasi tersebut tidak sebanding dengan risiko yang akan kita ambil.
4) Hati-hati menggunakan KPR untuk investasi properti karena ini berarti kita berutang untuk berinvestasi. Sebagai contoh, kita membeli properti seharga Rp 1M dengan KPR. Kita perlu modal awal investasi untuk membayar DP 30% senilai Rp 300jt dan berharap harga properti bisa naik. Jika ekonomi tiba-tiba membaik dan harganya naik menjadi Rp 1.3M berarti kita sudah untung Rp 300jt dengan modal Rp 300jt juga, i.e. untung 100%. Namun, timing kita bisa saja salah dan siklus ekonomi tiba-tiba menurun. Harga propertinya tinggal Rp700jt dan kita sudah kehilangan semua modal investasi awal Rp 300jt-nya. Ini hanya perhitungan sederhana, belum memperhitungkan bunga KPR dan biaya-biaya lain.
Khusus poin KPR di atas, ini akan berbeda kalau misalnya kita menggunakan KPR dan membeli properti bukan hanya untuk investasi melainkan juga sebagai tempat tinggal. Meskipun secara nominal harganya turun, kita masih bisa menikmati hasil pembelian properti tersebut untuk digunakan sehari-hari sehingga perhitungan nilai untung-rugi tidak bisa disamakan dengan properti untuk investasi semata.
Emas
Jujur saya belum terlalu paham betul mengenai investasi emas karena baru-baru ini saja mencoba. Setelah mencoba baca sana-sini, artikel di bawahlah yang membuat saya memutuskan untuk memulainya.
Cody Shirk's answer to Is this a good time to invest into gold (GLD)?
Awalnya saya tidak pernah pernah kepikiran sama sekali untuk mulai berinvestasi emas karena dua alasan utama berikut:
Selisih harga beli & jual cukup tinggi, sekitar 5%. Jadi, kalau kita membeli emas seharga Rp 1jt tapi tiba-tiba harus menjualnya kembali pada saat itu juga, nilai yang kita dapat berkurang menjadi hanya Rp 950rb.
Berinvestasi emas tidak memberikan penghasilan, tidak seperti aset investasi lain seperti properti (dari sewa), saham (dividen), obligasi (kupon) bahkan deposito (bunga).
Hasil bacaan saya juga menyimpulkan bahwa aset emas dalam jangka panjang puluhan tahun tidak akan bertumbuh. Namun, setidaknya investasi emas akan mempertahankan daya beli. Kasarnya, 10gr emas sekarang bisa membeli barang dengan jumlah dan nilai yang sama 30–40 tahun lalu.
Di sisi lain, belajar dari sejarah ketika terjadi krisis ekonomi global, investor menjual aset investasi mereka (termasuk saham & properti) dan berburu menggunakan hasil penjualan mereka untuk membeli logam mulia, termasuk emas. Ini karena mereka meyakini sewaktu resesi uang kas sekalipun akan turun nilainya seiring dengan inflasi yang cenderung tinggi ketika situasi ekonomi memburuk, tapi dampak inflasi ini tidak terjadi dengan logam mulia.
Saya pribadi tidak akan terlalu banyak membeli emas sebagai alat investasi utama karena siklus ekonomi pada umumnya cukup panjang (i.e. krisis ekonomi sangat jarang terjadi). Saya tulis emas di bagian akhir karena sifatnya hanya sebagai diversifikasi portofolio investasi saja.
****************************************
Ada beberapa hal tambahan yang ingin saya sampaikan tapi sebenarnya saya agak bingung di mana menyisipkannya pada bagian sebelumnya. Jadi, saya putuskan membuat bagian terpisah di bawah.
Konsep High Risk, High Return
Saya sering membaca artikel maupun mendengar bahwa ada pihak yang menawarkan investasi dan memberikan jaminan imbal hasil tinggi secara terus-menerus. Ini adalah hal yang harus kita waspadai karena menggabungkan kata-kata "jaminan", "imbal hasil tinggi" dan "terus-menerus" menurut saya mustahil.
Kita harus tahu seberapa tinggi yang "terlalu tinggi". Menurut saya, investasi apapun yang sudah mendekati atau melebihi angka 10% per tahun dan kemudian dijamin perlu kita waspadai. Angka 10% saat ini terlalu jauh dari imbal hasil deposito yang hanya di rentang 4% s/d 6%-an. Jika ada tawaran investasi dengan jaminan imbal hasil 15–18% setahun, atau 5% per 3 bulan (setara 20% setahun), atau bahkan 1% tiap bulan (setara 12% setahun) sudah pasti berisiko tinggi. Risiko tinggi sama dengan modal awal investasi kita berisiko hilang 100%. Kata kuncinya adalah jaminan imbal hasil secara terus-menerus. Kemungkinan besar, investasi tersebut adalah skema ponzi.
IHSG saja tidak bisa mendapatkan imbal hasil di atas 10% secara konsisten dari tahun ke tahun. Mungkin kita pernah mendengar dulu tahun 2009 IHSG pernah mencatat return 80% dalam setahun, tapi sebenarnya itu pada tahun 2008 IHSG sudah turun 50% karena krisis global. Bahkan kalau kita hitung dalam jangka menengahnya, sejak akhir 2007 hingga akhir 2010, IHSG hanya mencatat total return sekitar 26% saja atau sekitar 8% per tahunnya meskipun ceritanya di tahun 2009 mencatat return hingga 80%.
Poinnya adalah bukan berarti kita jangan berinvestasi dengan imbal hasil tinggi. Maksudnya lebih kembali ke poin "Ikhlas" di atas. Semakin tinggi imbal hasil suatu investasi, kita harus semakin ikhlas kalau terjadi kerugian. Imbal hasil tinggi tidak akan bisa tercapai tanpa mengambil risiko yang tinggi. Jaminan imbal hasil tinggi itu tidak mungkin.
Credit card ("CC")
Berhati-hati menggunakan CC. Tanamkan konsep bahwa CC bukan alat untuk berutang. Berikut dua prinsip yang menurut saya perlu kita jalankan:
1) CC adalah alat perencanaan keuangan dan bisa kita gunakan untuk mengetahui historis transaksi pengeluaran uang setiap bulanannya. Setiap bulan kita mendapatkan rincian tagihan. Sebaiknya kita simpan setiap bulannya (jaman sekarang tinggal save pdf di PC/laptop). Kalau perlu menggunakan Excel untuk tabulasi semua pengeluaran berdasarkan kategori sehingga kita bisa melihat apakah ada pengeluaran sekali di masa lalu yang cukup besar dan bisa terulang lagi di masa depan (e.g. asuransi mobil, belanja bulanan di supermarket).
2) Perhatikan penggunaan CC per bulannya. Jika kita tidak bisa melunasi tagihan bulan ini dari penghasilan bulanan, berarti pengeluaran memang terlalu besar dan bulan depan harus segera dikurangi pos-pos lain yang tidak terlalu penting. Selalu lunasi tagihan setiap bulannya karena bunga kartu kredit sangat tinggi, mendekati 30% per tahunnya kalau tidak salah.
Saya pribadi bisa dibilang membayar 70–80% pengeluaran bulanan menggunakan CC dan selalu membayar penuh tagihannya. CC saya gunakan utamanya untuk membantu melacak data historis pengeluaran setiap bulannya. Saya juga cuma menggunakan satu CC supaya poinnya terkumpul lebih cepat sehingga bisa segera ditukar dengan voucher belanja atau miles maskapai penerbangan.
****************************************
Sekian, semoga berguna. Terima kasih.